Kepentingan Nasional menjadi pegangan utama dalam hubungan antar negara. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan.
Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China bertemu dengan Presiden China, Hu Jin Tao membahas berbagai hal, diantaranya Suriah dan Iran, serta bagaimana mengimbangi pengaruh AS di panggung Internasional.
Sikap mereka tentang Suriah sangat jelas. Dua kali Rusia dan China memblok resolusi Dewan Kemanan PBB yang berisi kecaman terhadap Damaskus dan penyingkiran pemimpin Suriah. Resolusi ini disponsori AS dan negara-negara Barat. Kini bersama Iran, mereka berseberangan dengan negara-negara Barat dalam masalah Suriah.
Rusia dan China juga menentang rencana AS untuk membangun sistem pertahanan rudal di Eropa Timur. Langkah itu sebagai bentuk perlindungan terhadap Iran, sekaligus kerja sama mereka menghadapi AS. Hadirnya Putin dalam pertemua Organisasi Kerja Sama Shanghai, asosiasi keamanan regional China, Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah, menyimbolkan bahwa mereka berada di tempat berseberangan dengan AS. Apalagi Putin tidak menghadiri pertemuan di AS yang beberapa waktu lalu.
Rusia dan China memiliki banyak kepentingan. Kedua negara berbatasan sepanjang 4.380 KM, mereka pernah terlibat konflik militer menyangkut maslah perbatasan ini. Sejarah hubungan kedua negara pada masa Perang Dingin diwarnai persaingan. Namun sejah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991, hubungan kedua negara terus berkembang membaik.
Kini, China muncul sebagai negara kaya lebih dari Rusia. China menjadi kekuatan ekonomi dunia yang mampu menandingi AS. Itulah sebabnya Rusia memandang perlu menggandeng China menghadapi AS. Terbangunnya hubungan kedua negara akan menciptakan keseimbangan baru dalam peta kekuatan global, mengimbangi AS. Namun persaingan mereka dengan AS akan menambah dunia semakin panas, akan terjadi benturan kepentingan Rusia dan China dengan AS beserta sekutunya seperti pada kasus Suriah saat ini.